
Aku ketemu kamu waktu SMA, saat itu duduk-duduk di pinggir lapangan masih jadi hobi. Sebelum beberapa bulan kemudian, ada bola laknat yang mental ke kepalaku dan aku jadi males duduk di situ lagi.
Tapi sebelum aku ngga pernah duduk di pinggir lapangan itu lagi, aku pernah kenalan sama kamu. Aku mengambil bola yang menggelinding ke dekat kakiku dan mengembalikannya padamu. Sejak itu, kamu selalu nyempetin semenit-dua menit untuk duduk bersamaku di bawah pohon yang sering kali menjatuhkan biji-bijian sebesar kelereng dan kita berteriak ‘aduh’ bersamaan.

Semenit-dua menit di bawah pohon itu kadang hanya kita habiskan dalam diam. Kamu asik nontonin temen-temen kamu main bola, sedangkan aku sibuk baca buku. Tapi ada kalanya juga kamu bercerita, tentang mimpi kamu yang pengen jadi pemain bola. Dan kamu menanyakan apa mimpiku, aku menjawab editor majalah wanita seperti Anna Wintour.
Berminggu kemudian mimpimu direvisi, jadi “aku jadi striker dan kamu harus nonton setiap aku tanding” dan mimpiku jadi “aku jadi editor yang selalu nulis di jalan, karena ikutan tour Timnas keliling dunia.” mimpi-mimpi yang masih saja bisa membuatku tertawa mengingatnya.
Mimpi-mimpi besar seperti itu rasanya hanya sejengkal saja jaraknya. Tinggal belajar yang bener, semua beres.
Tapi, belum sampai belajar yang bener itu beres, kita udah lupa sama mimpi kita. Kadang-kadang memang terasa lebih ringan saat ratusan balon yang kugenggam lepas satu persatu. karna terus terang aja, dua orang menggenggam satu balon aja, itu ngga segampang keliatannya. Berapa sih beratnya balon? tapi jelas bukan karna bobotnya, yang membuat balon yang sama warnanya terlepas satu per satu ke udara dan kembali menjadi balon berwarna hijau dan biru.

Tahun berlalu sampai aku menemukan balon-balon berisi kenangan dan kamu lagi.
Mimpiku bukan lagi jadi Anna Wintour, aku mau jadi praktisi perencanaan media. Dan kamu? kamu ingin jadi Diplomat. Mimpi kita? sederhana, bertahan. Bertahan saat waktu mendewasakan salah satu di antara kita, dan bukan kita berdua bersama-sama. bertahan saat jarak yang tidak seberapa tapi menjadi terlalu jauh memisahkan.
Terlalu sederhananya mimipi kita, sampai tidak kuat untuk menjadi alasan. Aku lupa, kamu juga…kenapa kita dulu duduk di pinggir lapangan, kenapa kita memunguti balon-balon yang sudah berlepasan.
Walaupun kali ini balon-balon itu tidak berlepasan, tapi memang kita yang melepaskannya. merelakannya terbang ke angkasa.
Mimpi memang bisa berubah. Kita apalagi.
Tapi aku masih boleh punya mimpi kan? mimpi baru, daripada pusing-pusing dengan puluhan bahkan ratusan balon yang harus kita urus bareng-bareng, gimana kalau kita punya satu untuk kita naiki berdua. Iya, mimpiku punya balon udara yang bisa dinaiki dan digunakan untuk melang-lang buana bersama kamu.
Iya kamuuu. Siapapun kamu. kalau kamu ngga keberatan :)