Welcome to Kinder!

Photobucket

Hello my name is Kinanti Desyva.

And welcome to Kinder!!!

What you can find here: Stories...and more stories :P and some pictures i took with my lomo and toy cam.

Que tengas un buen día!!!

http://www.mediafire.com/?dwf752vdm9x3q

#favourite

Kisses from the sun #throwback #orabeach

"Kila!!" Teriak Niki dari ujung koridor sekolah saat melihat sahabatnya itu melintasi gerbang.

"Hey, Nik…how’s your dream last night?" Tanya Kila yang melambatkan jalannya.

"Mmmm…"

Kila menghentikan langkahnya, “Main ke mimpi Bara lagi?”

Niki tak menjawab. Tapi diamnya Niki itu justru sudah menjelaskan semua. “Kita akan cari cara ya…supaya lo bisa keluar dari mimpi sesuai mau lo. Mudah-mudahan mimpi yang tadi malam bukan mimpi…emm…”

"Bukan kok!!!" Jawab Niki cepat.

"Bagus lah."

"Terus malam minggu lo gimana kemarin? Jadi ke rumah Yuri?" Niki segera mengalihkan pembicaraan.

“Jadi, dan lo nggak akan percaya dengan keajaiban apa yang terjadi setelah gue pulang dari sana” jawab Kila sambil memainkan alisnya.

Niki lalu menarik Kila menuju koridor yang lebih sepi. Akhir-akhir ini Kila tidak bosan-bosannya membuat Niki takjub dengan pengalamannya bermain-main dengan arloji tua warisan kakeknya. “Lo lompat ke masa depan lagi??” Tanya Niki penuh semangat.

“Gue berkelana ke negeri ajaib!”

“DEMI APA?? Kok lo nggak ajak gue?!”

image

“Lo tau kan, gue nggak tau jalan ke rumahnya Yuri. Jadi gue memutuskan untuk janjian sama Andy supaya kita bisa pergi iring-iringan.” Tutur Kila.

“Kenapa lo nggak nebeng Andy aja?”

“Gue harus jemput nyokap malamnya.” Jelas Kila sambil memainkan arloji tua yang ia simpan di dalam saku celananya. “Anyway, long story short, karena padat dan chaosnya jalan…gue nggak sadar kalau saat perjalanan pulang, mobilnya Andy udah nggak ada di depan mobil gue.

Dengan sok pintarnya, gue menerka-nerka jalan sampai akhirnya gue terbawa arus menuju negeri ajaib. Jangan tanya gimana caranya gue bisa sampai di sana deh. Semua kejadiannya cepat banget!”

“Terus-terus? Si Andy-nya kemana??”

“Dia sempet nelfon gue, tapi nggak keangkat. Lo juga tau kan, gue paling nggak bisa multi tasking.”

“Lo bisanya apa sih? Nginget jalan nggak bisa, multi tasking nggak bisa.”

“Lo mau denger terusannya apa nggak?” Kila sudah siap beranjak dari hadapan Niki.

Niki segera menarik ujung kemeja seragam Kila, “mau mau. Lo taunya itu negeri ajaib dari mana?”

“Kanan-kiri gue bukan lagi mobil biasa, gue nggak tau itu makhluk apa…tapi mereka mirip banget Brontosaurus. Mereka pergi berbondong-bondong. Sepertinya lebih dari 10 kawanan. Saling pepet-pepetan, seperti saling nggak mau kalah mengejar sesuatu. Lemes gue, Nik…gue bener-bener nggak tau saat itu gue ada dimana. Gue berasa kecil banget. Takut keinjek gue.” Cerita Kila menggebu-gebu.

Niki ikut terbawa suasana. Bahkan dalam mimpi-mimpi yang ia masuki, belum pernah ia mengalami yang seperti itu. “Terus gimana? Lo muter balik aja lah..”

“Nggak bisa, mereka terlalu besar dan terlalu…rapat. Gue nggak bisa kemana-mana selain mengikuti arus itu. Ada kali gue satu jam dalam kebawa arus tanpa ada yang bisa gue tanya.”

“Nggak ada peri hutan? Kesatria berkuda putih? Kelinci yang selalu berjalan terburu-buru? Bajak laut? Masa nggak ada yang bisa lo tanya sama sekali???” Niki selalu begini bila Ia mendengar cerita yang dapat menumbuhkan imajinasinya, gemas sendiri.

Kila menggigiti bibirnya terlihat berpikir dan mencoba mengingat sesuatu. “Kalaupun ada, gue cupu. Nggak berani tanya. Gue sibuk panik sendiri dan penasaran. Mau kemana sebenarnya rombongan itu? Ada apa di depan sana sampai jalanan yang nggak seberapa lebar itu dipenuhi makhluk-makhluk yang nggak pernah gue lihat sebelumnya?

Nggak lama gue lihat parade, kembang api dan lampu laser yang menembak kesana kemari. Seperti sedang ada perayaan besar tak jauh dari tempat gue nyetir saat itu.”

“Ah Kila, pasti raja penguasa baru saja memiliki anak yang akan menuruskan tahtanya” Niki mulai sibuk dengan khayalannya sendiri.

Kila hanya tersenyum melihat sahabatnya yang mulai tidak fokus mendengar ceritanya.

“Ajak gue kesana Kila…please!!” Niki kembali menarik-narik ujung lengan kemeja Kila.

Kila mengangkat kedua alisnya, “Yakin??”

“Yakin!!! ayo…kita cabut sekolah aja. Kita kesana Kil..”

Kila lalu membalikan badannya siap untuk pergi, “Oke…”

“Lo inget jalannya??”

“Kita bisa cari di peta”

“Emang ada???”

“Gue lihat papan nama besar di pintu gerbang masuk ke negeri itu.”

“Apa nama negerinya Kil????”

“Bekasi Barat.”

Lalu Niki dan Kila saling berpandangan tanpa berbicara apa-apa. Niki masih menunggu apakah Kila akan meneruskan kalimatnya. Sedangkan Kila menantikan tanggapan dari Niki, apapun bentuknya.

“Apa nama negerinya, Kila?” Akhirnya Niki membuka suara, mengulangi pertanyaannya lagi.

“Bekasi Barat…itu loh, kawasan yang nggak jauh dari Bekasi Timur” Jawab Kila dengan air muka datarnya.

Niki memandang Kila tidak percaya. Bisa-bisanya Kila menghancurkan dreams-come-true momentnya. “Serius?”

“Truk gede semua Niki….macet banget! Nggak paham lagi gue, padahal itu gue di jalan tol. Mana di jalan tol nggak bisa muter balik”

“Nggak lucu Kil,” Lalu Niki berjalan meninggalkan Kila yang sedang sekuat tenaga menahan tawanya.

Kila lalu mengejarnya, “duh, ngambeeek”

“Nggak asik lo!” Kata Niki ketus.

“Terus yang asik siapa? Bara? Bilangin ke Bara, sana bikin mimpi yang lebih seru daripada nyasar di Bekasi Barat..” Ujar Kila sambil mengacak-acak rambut Niki.

Niki tak menjawab apa-apa.

“oh, udah pernah di bawa ke mimpi yang seru??”

“Besok-besok, karang cerita yang lebih seru dari Transformers berantem sama Gundam!”

“Wah..keren amat si Bara, gue ikutan naksir deh sama dia” Goda Kila.

“Kila nyebelin!!!!”

"told you Anti, everything is gonna be great." kata yang di tengah, sebelum jalan kesitu… #catatan17 #mylifeatHolcim

Niki kembali ke dunia nyata. Yang mereka tahu, dia telah lama terbaring koma tanpa jelas apa penyebabnya. Kila tahu bahwa Ia nyaris kehilangan sahabatnya karena apa, Bara sempat ragu bahwa Ia akan berhasil mencarikan pintu keluar untuk Niki kembali dari dunia mimpinya.

Niki tidak mau terlelap lagi, Ia tidak mau terjebak dalam mimpi orang lain lagi. Ia tidak mau terjebak dalam mimpi buruk orang lain lagi. 

Sore itu adalah hari kedua Niki terjaga tanpa membiarkan dirinya tertidur pulas. Hujan menyapanya dan Ia kembali mengingat apa yang akan dihadapinya. That is the time when she learns the hard truth.

That some nightmares don’t end once we open our eyes.*

*Gossip Girl: The Unblairlable Lightness of Being

Asker Anonymous Asks:
Tanggal 17 nih, ga ada catatan 17 lagi?
desyva desyva Said:

Ada nih…mumpung ada yang nanya, gue post deh…

Let’s hope this one won’t end up being just a teaser!

"Kita mau kemana?" Niki merelakan tangannya ditarik oleh Bara yang mengajaknya untuk berlari bersamanya. Ia tidak tahu pasti kemana arah tujuan mereka, semuanya kabur hingga Bara menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah kayu di tepi jalan.

"Is it your dream home?" Tanya Niki yang memperhatikan segala detail yang ada di rumah kayu itu; bangunan tingkat dua, tidak terlalu besar namun memiliki halaman yang luas dipenuhi bunga-bunga.

Bara tak menjawab apa-apa, Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

"That’s a really nice house, though.." Gumam Niki yang mengikuti arah pandang Bara yang tidak tertuju pada rumah yang kini berada di belakang mereka. Bara memberi aba-aba kepada Niki untuk melihat lapangan rumput yang sangat luas di seberang rumah kayu tersebut.
Lapangan itu mungkin berukuran dua kali lebih besar dari lapangan bola dan ditumbuhi pohon-pohon rindang di sekelilingnya. Di seberang hamparan luas itu, mengalir sungai kecil yang memisahkan kota dengan daerah pinggirannya.

Niki bisa melihat gedung-gedung pencakar langit dari tempat ia berdiri sekarang. Semuanya sangat indah seperti lukisan masa depan, dimana teknologi dan urbanisasi berjalan dengan harmonis bersama lestarinya lingkungan.

"Cantik banget Bar…" Niki kehabisan kata-kata.

"Tunggu sebentar lagi…"Akhirnya Bara buka suara.

Tak lama angin kencang menerjang mereka. Debu pekat menghalangi pandangan, hingga Niki menutup matanya. Saat debu dan pasir itu sirna, Niki mundur selangkah dan mengucek matanya beberap kali. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.

"Welcome to the bettlefield" Seru Bara sambil mengenakan kaca mata hitamnya.

Di hadapan mereka pertempuran akan segera dimulai. Robot-robot besar yang paling tidak setinggi Monas mulai mengambil kuda-kuda yang membuat tanah tempat mereka berpijak bergetar hebat.

Robot-robot itu terbagi menjadi dua kubu, namun Niki tidak dapat menilai yang mana kubu baik - yang mana kubu sebaliknya.

"Bar…itu bumblebee?" Tanya Niki penuh semangat.

"Iya…Autobots VS Gundam" Jawab Bara sambil nyengir kesenangan.
Seolah menyaksikan robot-robot legendaris itu bertempur saja tidak cukup, Bara memberikan sentuhan akhir pada mimpinya.

"That’s the most beautiful sunset i’ve ever seen" Niki tak melepaskan pandangannya dari Matahari yang mulai terbenam di antara gedung-gedung pencakar langit. Matahari dengan bulat sempurna yang tiga kali lebih besar dari matahari yang biasanya Ia lihat, membuat langit seolah terbakar di hadapan besi-besi raksasa yang sedang bertempur.

"I know, and it only happens in your dream…"