Welcome to Kinder!

Photobucket

Hello my name is Kinanti Desyva.

And welcome to Kinder!!!

What you can find here: Stories...and more stories :P and some pictures i took with my lomo and toy cam.

Que tengas un buen día!!!

http://www.mediafire.com/?dwf752vdm9x3q
Recent Tweets @

Let’s hope this one won’t end up being just a teaser!

"Kita mau kemana?" Niki merelakan tangannya ditarik oleh Bara yang mengajaknya untuk berlari bersamanya. Ia tidak tahu pasti kemana arah tujuan mereka, semuanya kabur hingga Bara menghentikan langkahnya di depan sebuah rumah kayu di tepi jalan.

"Is it your dream home?" Tanya Niki yang memperhatikan segala detail yang ada di rumah kayu itu; bangunan tingkat dua, tidak terlalu besar namun memiliki halaman yang luas dipenuhi bunga-bunga.

Bara tak menjawab apa-apa, Ia hanya menggeleng sambil tersenyum.

"That’s a really nice house, though.." Gumam Niki yang mengikuti arah pandang Bara yang tidak tertuju pada rumah yang kini berada di belakang mereka. Bara memberi aba-aba kepada Niki untuk melihat lapangan rumput yang sangat luas di seberang rumah kayu tersebut.
Lapangan itu mungkin berukuran dua kali lebih besar dari lapangan bola dan ditumbuhi pohon-pohon rindang di sekelilingnya. Di seberang hamparan luas itu, mengalir sungai kecil yang memisahkan kota dengan daerah pinggirannya.

Niki bisa melihat gedung-gedung pencakar langit dari tempat ia berdiri sekarang. Semuanya sangat indah seperti lukisan masa depan, dimana teknologi dan urbanisasi berjalan dengan harmonis bersama lestarinya lingkungan.

"Cantik banget Bar…" Niki kehabisan kata-kata.

"Tunggu sebentar lagi…"Akhirnya Bara buka suara.

Tak lama angin kencang menerjang mereka. Debu pekat menghalangi pandangan, hingga Niki menutup matanya. Saat debu dan pasir itu sirna, Niki mundur selangkah dan mengucek matanya beberap kali. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya kini.

"Welcome to the bettlefield" Seru Bara sambil mengenakan kaca mata hitamnya.

Di hadapan mereka pertempuran akan segera dimulai. Robot-robot besar yang paling tidak setinggi Monas mulai mengambil kuda-kuda yang membuat tanah tempat mereka berpijak bergetar hebat.

Robot-robot itu terbagi menjadi dua kubu, namun Niki tidak dapat menilai yang mana kubu baik - yang mana kubu sebaliknya.

"Bar…itu bumblebee?" Tanya Niki penuh semangat.

"Iya…Autobots VS Gundam" Jawab Bara sambil nyengir kesenangan.
Seolah menyaksikan robot-robot legendaris itu bertempur saja tidak cukup, Bara memberikan sentuhan akhir pada mimpinya.

"That’s the most beautiful sunset i’ve ever seen" Niki tak melepaskan pandangannya dari Matahari yang mulai terbenam di antara gedung-gedung pencakar langit. Matahari dengan bulat sempurna yang tiga kali lebih besar dari matahari yang biasanya Ia lihat, membuat langit seolah terbakar di hadapan besi-besi raksasa yang sedang bertempur.

"I know, and it only happens in your dream…"

AMPUN!!!!!!!!!!!!!!

apopcornhead:

10knotes:

elijah120607:

Chris Pine, Josh Duhamel, Aaron Paul, Taylor Kitsch, Garrett Hedlund, Amie Hamer, Garrett Hedlund, James Marsden, James Franco, Chris Hemsworth, and  Joseph Gordon-Levitt@Yu Tsai.

Featured on a 1000Notes.com blog

Good morning, hottie :) 

"No message?  No wishes? Cuma kado doang gitu?" Tanya si Piko, balon berwarna kuning yang setia bertengger di ujung cubicle Kinan.

"Ya kalau aku bisa nyanyi…aku kirimin rekaman suara aku. Tapi daripada ulang tahunnya jadi mimpi buruk gara-gara aku nyanyi…" Jawab Kinan, sambil menopang dagu. Manyun, karena sadar dengan kemampuan terbatasnya.

"Itu makanya, kamu ngepost lagu di Path?" Piki, balon merah yang selalu berada di samping Piko ikut bertanya.

"Soalnya suaranya Kyle Patrick udah diakuin dunia. Jadi dia aja yang nyanyi…hehehe"

"Emang siapa sih yang ulang tahun?" Piki melirik Piko ragu, baru sadar kalau ia tidak tahu siapa yang mereka bicarakan dari tadi.

"Gimana sih?? Aku kan udah kirim fotonya di whatsapp!" Kinan mencubit gemas balon berwarna merah tersebut.

"Tapi kan kamu bisa nulis…kenapa kamu nggak tulis aja ucapannya?"

"Tapi tulisanku nggak sebagus tulisan dia Piko, belum lagi typo-typonya."

"Yang penting kan doanya, Kinaaaan"
Lalu Kinan membuka kembali laptopnya, menulis cerita ini ditemani dengan 2 balon yang menjadi temannya semenjak Ia pindah gedung kantor.

Piki dan Piko dengan sabar menunggu Kinan yang menghabiskan waktunya untuk menambah lembar baru di blognya.

"Coba dong, bacain kamu nulis apa di Tumblr…"goda Piki.

Kinan terlihat ragu, namun tetap mengabulkan permintaan sahabatnya “Happy Birthday Theodore!  Semoga selalu diberi kesehatan, kesuksesan dan kebahagiaan. Dikabulkan segala doa yang baik dan selalu diberikan yang terbaik oleh Allah SWT”

"AAAAMMMIIIIIN" seru Piko dan Piki bersamaan, seperti anak-anak yang sahut-menyahut saat Shalat Jumat.

"Nanti sisa ucapannya bisa dia liat di kartu…" Kinan lalu menutup kembali laptopnya.

"Terus yang ada di Instagram itu apa??" Kinan memandangi Piko yang menunggu jawaban.

"Kalimat penutup sebelum signature…" Jawab Kinan sambil nyengir.
Piki tidak mengerti, yang Ia lihat hanya barisan huruf-huruf asing.

"Dia pasti tau kok itu artinya apa.Lets go home Pik-Pik…it’s getting late."Piko dan Piki lalu tersenyum sambil tak sabar menunggu saatnya kehadiran mereka tidak diperlukan lagi.

49 plays
Theodork

I’m more than a happy lucky girl. I am Blessed.

Walaupun gue ga percaya si RobPatz yang ngomong…

hahaha

cutesecrets:

Click here for more quotes.

How i describe 2013 :P

(via cutesecrets)

Kila memutar tuas arloji tuanya 5 kali putaran penuh sambil memandangi Kara lekat-lekat. “Lo yakin mau lakuin ini? Karna saat lo kembali nanti, mungkin hasilnya lo malah nggak suka. Bahkan mungkin gue nggak di sini.” Ujarnya khawatir. 

Kara menarik nafas panjang. Ia tidak tahu apa yang akan Ia hadapi nanti, tapi perasaannya bilang dia akan baik-baik saja. Justru satu-satunya yang Ia khawatirkan adalah bagaimana Ia akan menjaga rahasia besar Kila saat Ia kembali nanti. “Gue nggak yakin Kil…tapi lo tau gue. Mungkin di dunia ini, yang selalu ngelakuin apapun nggak pakai mikir cuma gue doang. Walaupun gue tahu itu nggak akan berhasil.” Jawab Kara sambil tersenyum menenangkan Kila. 

"Mau-maunya elo aja lah Kar. Asal inget yang gue ajarin ya. Once you’re there…you’re on your own. Lo nggak bisa panggil gue dan lo nggak bisa kembali kecuali waktunya habis. Lo bisa aja cari gue, tapi lo akan membuang waktu, karna waktu yang gue kasih nggak banyak. 15 menit Kar, gue nggak berani lebih dari itu.” Jelas Kila sekali lagi. Kara lalu mengangguk mantap tanda mengerti.

Kila memandanginya sekali lagi, lalu memeluknya. 



"Kara, ada hal yang memang seharusnya terjadi dan nggak bisa kita ubah. Apapun jawaban yang lo dapat disana, mungkin tidak akan merubah apapun disini. Jadi jangan terbang tinggi-tinggi ya…gue tau, lo nggak takut jatoh. Tapi gue cuma takut gue nggak ada disana nanti buat nolongin lo." 

Kila lalu meraih pergelangan tangan kanan Kara dan melepas tuas arloji yang Ia tahan. Kumparan energi yang datang entah dari mana berkumpul mengelilingi Kila dan Kara. Semburat warna merah muda berlomba menerobos setiap celah yang ada di antara tubuh mereka. Saat cahaya keperakan menembus keluar dari Arloji tua yang Kila pegang, Ia segera melepaskan tangan Kara yang sedang memandanginya. “Hati-hati Kar…”ucapnya saat mengawasi Kara yang perlahan menghilang dari pandangannya. 

image


Ya, kara tak lagi di hadapannya. Kumpulan kabut tipis yang tadi menyelimuti mereka, kini memudar. Ia melihat jam digitalnya yang sudah ia pasang pengaturannya untuk memberikan peringatan jika 15 menit telah berlalu dan mulai menunggu. Sekarang Ia hanya dapat berdoa agar Kara baik-baik saja di sana. Di tempat yang sama dimana ia berada kini, lima tahun yang lalu. 

Kila tidak pernah cerita kalau perjalanan mengarungi waktu semenyenangkan sekaligus sememusingkan ini. Tubuh Kara seperti tersedot ke lubang kecil yang tidak akan mampu menerima dirinya. Semua seperti berputar sampai ia sadar bahwa deru angin yang memekakkan telinganya kini tiada. Cari benda lurus dan diam. Pandangi sampai mabuknya hilang. Kara mengingat apa yang Kila ajarkan. Perlu waktu lama untuk Kara jejak dengan apa yang ia pijak. Waktunya tidak banyak…Ia tidak punya waktu untuk memanjakan mabuk perjalanannya ini. 

Kara memandangi suasana di sekitarnya, 5 tahun tak banyak merubah tempat ini. Ia lalu berlari memasuki pelataran stadion tempat akan dimulainya konser band internasional favoritnya. Semustinya 5 tahun yang lalu-masa dimana ia berada sekarang-Ia datang ke stadion ini untuk mengantri dengan ribuan fans lainnya. Mungkin dulu bila Ia memutuskan untuk tetap pergi, mereka akan bertemu dan  mengenal satu sama lain di sini, namun itu tidak terjadi. 

Moment ini adalah satu-satunya yang Kara tahu dari masa lalu Grey dan Ia berharap yang Ia lakukan ini dapat merubah sesuatu di masa depan. Kara melihat keadaan sekitar dan bingung harus mulai darimana. Waktunya hanya tinggal 10 menit lagi untuk mencari Grey dan berbicara padanya. 

Kara bahkan nggak tahu bentuk Grey seperti apa pada masa ini. Yang Ia dengar, Grey yang dulu dan Grey yang sekarang sudah banyak berubah. Apalagi penampilannya. 

Kara mencoba mengingat saat Grey menceritakan masa lalunya. Bagaimana Ia yang culun, pakai baju selalu kebesaran dan berkacamata. Berbeda dengan Grey yang Ia kenal, yang penampilannya selalu serasi.  

Mencari orang yang penampilannya mirip dengan Grey di jaman dulu, di tengah ribuan orang  saat konser akan berlangsung adalah mimpi buruk. Kara nyaris menyerah dan siap untuk kembali saat melihat jarum panjang di jam tangannya yang sudah bergerak jauh dari angka saat Ia memulai tadi. 

Sampai Ia melihat seseorang yang berdiri tidak jauh darinya dengan muka nyebelin dan sok tahunya. Ternyata tengilnya sudah bawaan lahir, pikirnya. 

"Grey!" Panggilnya. 

Pria itu memalingkan wajahnya, bingung karena tidak mengenal dengan orang yang memanggilnya. 

"Hi…akhirnya ketemu juga…" Kara tak bisa menahan air matanya. Ia melirik jam tangannya lagi. Tidak lebih dari 4 menit waktu yang Ia miliki sekarang. 

"Grey…sebenarnya ada banyak yang mau gue omongin…tapi waktunya nggak cukup" Grey terlihat bingung dan berpikir untuk pergi meninggalkan Kara, namun ada sesuatu yang membuatnya bertahan. 

"Pokoknya…5 tahun dari sekarang, di tempat lo kerja nanti akan ada anak perempuan berisik, petakilan, dan kalo disuruh diem dia bisa mati…" Grey berusaha keras menahan tawanya mendengar perkataan Kara barusan. 

"Kayak elo maksudnya?" Tanya Grey memotong pembicaraan, sambil mengangkat alisnya. 

"Iya, kayak gue. Sekarang anaknya memang belum seberisik ini…but when you meet her later, she’ll be a lot like me.

"Gue harus gimana kalo ketemu dia nanti?"Tanya Grey yang mulai mempertanyakan kewarasan dirinya sendiri yang menanggapi pembicaraan dengan wanita yang tak ia kenal. 

"Tolong bilang ke dia, kalau semua akan baik-baik saja. Dia hanya perlu lebih sabar lagi." Jawab Kara sambil mengusap air matanya. 

"Kalau gue ketemunya sekarang, bukan lima tahun lagi?" Tanya Grey yang sadar bahwa orang-orang sudah mulai memasuki stadion dan meninggalkannya berdua dengan si orang asing ini. 

"Ajak dia kenalan. Dia suka film klasik…sama kayak elo. Jadi gue yakin kalian pasti bisa berteman." Kara tak menyangka bahwa Grey yang 180 derajat bedanya sengan Grey yang Ia kenal juga bisa membaca pikirannya. 

Kila benar, perjalanan ini hanya akan menyusahkan dirinya sendiri. Dan kini Ia hanya memiliki waktu 2 menit lagi. 

"Apa untungnya buat gue?" 

"Nggak ada. Kalo ruginya banyak. Hehehe" 

Grey tampak berpikir. Permintaan orang ini sebenarnya sederhana, tapi kenapa jadi terlihat sulit dan tidak mungkin dilakukan dan kenapa juga gue harus ngelakuin apa yang dia Minta…ucap Grey dalam hati. 

"Nanti disampein…" Grey bahkan nggak tahu darimana datangnya jawaban tersebut. 

Kara tersenyum mendengarnya. Satu menit yang tersisa, dan Kara harus benar-benar memanfaatkannya. 

"Grey, aku harus pergi. Kalau nggak ngerepotin, cari dia sekarang yaaa" desak Kara akhirnya. Itulah tujuan Ia datang kesini. Agar dia dan Grey dapat bertemu lebih cepat dan tak perlu menyesali apapun di masa yang akan datang nanti. 

"Kasih gue satu aja alasan, kenapa gue harus cari elo sekarang?" Grey melipat tangannya di dada. Ini gila. Konsep orang datang dari masa depan itu nggak pernah masuk akal gue…pikir Grey. Tapi Grey tak bisa menghilangkan pikiran itu. Bahwa ada orang yang secara ajaib hadir di hadapannya untuk meminta dia mencari seseorang yang bukan dari masanya. 

Kara tidak dapat menjawab pertanyaan ini, Ia tahu Ia kehabisan waktu. Ia mengingat kembali apa yang diajarkan Kila bila waktu yang dijanjikan telah habis. Ia harus sebisa mungkin menghilangkan segala jenis kontak dengan apapun di masa yang Ia datangi. 

I’m sorry…i couldn’t tell" ucapnya lirih sambil memeluk Grey. Hal spontan yang tak Ia pikirkan dampaknya di masa ini atau nanti. 

Kara mulai merasakan sensasi energi yang ingin menariknya pergi, hadir kembali. Ia melirik jamnya…15 menit telah berlalu. “I love you, Grey.” Lalu, Ia segera melepaskan pelukannya walaupun Ia tak mau. 

He loves you too…I’m sure he does. Kalau dia nggak pernah bilang, bukan berarti nggak sayang. Mungkin…” Kara tak bisa lagi mendengar suara Grey. Pandangannya kabur dan semua yang di hadapannya mulai berputar dan menghilang. 

Kara menikmati sensasi tercerainya partikel-partikel tubuhnya yang membaur dengan energi lintas dimensi yang membawanya pada perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Ia tak lagi peduli  dengan apa yang dilakukannya tadi itu akan merubah masa kini atau masa depan atau tidak merubah apapun sama sekali.

Kara hanya ingin berada di medan energi ini selamanya.  

It’s the most beautiful time of the year :”)

It’s the most beautiful time of the year :”)